untuk sementara blog ini dialihkan ke – http://aleichang.multiply.com
silahkan untuk berkunjung
terima kasih
untuk sementara blog ini dialihkan ke – http://aleichang.multiply.com
silahkan untuk berkunjung
terima kasih
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudianmata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik.
“Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya.
“Kaubenar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,”ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yangdimaksud berbicara
“Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak
cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.”
“Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruklagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas !Teriakku dengan keras. Stop! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”
“Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai
dingin.. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah
dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaanini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku.
“Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar
dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapan kuberdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
Renungan :
Seperti inilah Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentukkita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, danbanyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkankemuliaa n-Nya.
“Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia
sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Tuhan membentuk aku
disadur dari : <daviga2001@yahoo.com>
Ahmad Albar terlihat begitu sumringah saat ditanya kemungkinan kelompok musik rock yang didirikannya ‘God Bless’ merilis album baru lagi. Dan memang, malam itu God Bless dianugerahi penghargaan sebagai salah satu artis abadi di Tanah Air lewat predikat ‘The Immortals (keabadian)’.
Bagi pria kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946 ini, pertanyaan dan penghargaan itu menjadi satu penegasan bahwa sejatinya, keberadaan kelompoknya masih diakui oleh masyarakat.
“Berarti God Bless masih mendapatkan tempat di hati masyarakat,” tuturnya saat ditemui di sela-sela acara penganugerahan penghargaan ‘The Immortials’ yang digelar Majalah The Rolling Stones di Jakarta, Kamis (30/10).
Maklum, setelah merilis albumnya yang kelima ‘Apa Kabar’ pada 1997, kelompok ini seolah hilang tak terdengar kabarnya. Sementara kelompok musik yang mengusung genre rock dengan berbagai corak pun banyak bermunculan di belantika musik nasional.
Albar Memang, sesekali nama personel kelompok yang berdiri sejak 5 Mei 1973 itu terdengar, baik Ahmad Albar, Ian Antono, atau Dony Fattah. Namun itu bukan atas nama God Bless, tetapi kelompok lain atau sebagai pribadi. Gong 2000 misalnya.
Sehingga malam itu menjadi sebuah penegasan ketika pria yang biasa disapa Iyek tersebut menyatakan, ia dan kawan-kawan tengah mempersiapkan album baru. “God Bless menargetkan pada Januari atau Februari 2009, album baru itu sudah bisa beredar. November ini sudah masuk tahap penyelesaian beberapa materi lagu,” tandasnya mantap.
Dan bisa jadi orang yang mendengar jawaban ini akan sedikit terkesiap. Wajar, sebab usia para personel kelompok yang pernah menjadi band pembuka pada konser grup legendaris dunia ‘Deep Purple’ di Jakarta pada 1975 itu, juga tak bisa dibilang muda.
Ahmad Albar misalnya, telah berusia 62 tahun. Dony Fattah 56 tahun, Ian Antono 57 tahun, dan Abadi Soesman (yang menggantian Jockie Suryoprajogo) sudah 56 tahun. “Jangan salah, kami ini anak-anak muda yang memainkan lagu-lagu tua. Kami tidak kalah dengan yang muda-muda,” ujar Ahmad Albar terbahak.
Lantas seperti apa corak musik God Bless kali ini? Akankah terjadi perubahan sesuai dengan tuntutan pasar saat ini? “Memang, kalau kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali bermunculan grup rock dengan corak melankolis. Tapi kami tetap pada jalur kami, pokoknya God Bless banget,” papar pria ini
Pertanyaan ini pun wajar. Pasalnya, God Bless sudah satu dasawarsa lebih tidak merilis album baru. Tercatat, sejak 1973 sampai 2006 atau sekitar 33 tahun, kelompok baru merilis lima album, yaitu ‘Huma di Atas Bukit’ yang dirilis pada 1976. Kemudian ‘Cermin’ pada 1980, ‘Semut Hitam’ pada 1988, ‘Maret 1989 yang dirilis pada 1989, dan yang terakhir ‘Apa Kabar’ pada 1997.
Tapi, lagi-lagi Ahmad Albar menjawab keraguan itu. Meski kerap mengalami kekosongan produksi album, lantaran sering bergantinya personil, namun kelompok ini memiliki komitmen yang tinggi terhadap musik cadas tersebut. “Bagi kami rock adalah nafas kehidupan kami, karena kami mencari makan dari musik ini. Tak hanya itu, musik ini juga menjadi jiwa kami, karena bermusik ini kami memiliki semangat,” tandas Dony Fattah yang diamini Ian Antono.
Yang terang, God Bless memiliki daya tarik yang besar bagi masyrakat pecinta musik di tanah air. Bukan semata-mata keteguhan kelompok ini dalam meniti jalur rock dengan lagu-lagu yang melegenda saja, namun sebagai kelompok musik generasi 70-an yang keberadaannya masih diakui, grup ini juga merupakan daya tarik tersendiri. Lebih-lebih bila disimak dinamika perjalanan sejarahnya.
Dinamika kelompok ini dalam mengarungi belantika musik rock tanah air, ibarat meniti buih di tengah gelombang. Ada kalanya mereka di atas seiring menjulangnya ombak, tapi tak jarang pula mereka di bawah atau bahkan teseret gelombang sehingga harus berhenti dari kegiatan, untuk kemudian kembali bangkit.
Pada dekade 70-an, misalnya, kelompok musik ini bisa disebut merajai musik cadas di Indonesia. Ia ditempatkan pada urutan atas dibanding kelompok musik lainnya yang ada kala itu, seperti Giant Step dan Rollies.
Hanya memang seiring perjalanannya, grup ini terhitung sering berganti personil. Pada Juni 1974, Fuad Hasan sang penabuh drum dan Soman Lubis pemain keyboard mengalami kecelakaan lalu lintas. God Bless pun kehilangan dua personelnya.
Tak pelak, kegiatan juga terhenti. Ahmad Albar, sang vokalis, menempuh bersolo karier, bahkan sempat berkolaborasi dengan penyanyi rock Ucok “Aka” Harahap. Mereka membentuk Duo Kribo. Begitu pun dengan Ian Antono, yang bersolo karir. Tak pelak, dalam kurun waktu hampir lima tahun kelompok ini belum merilis album baru.
Tanda-tanda kebangkitan untuk membuat album mulai terlihat memasuki tahun keenam. Namun sayang, menjelang pembuatan album kedua yang diberi judul ‘Cermin’ dan dirilis pada 1980 itu, salah seorang personilnya yaitu Jockie Surjoprayogo (yang sebelumnya menggantikan posisi Dedy Dorres), mengundurkan diri. Keadaan itu sempat mempengaruhi God Bless.
Tapi itu tak lama, karena posisi yang ditinggalkan Jockie digantikan Abadi Soesman. Tapi, keberadaan Jockie di kelompok ini juga tak lama, karena selang dua tahun setelah album itu dirilis yaitu pada 1982, ia mengundurkan diri. Kegiatan God Bless pun seolah terhenti.
Denyut kegiatan mulai terasa lagi pada 1988, yaitu saat diluncurkannya album ketiga yang bertajuk ‘Semut Hitam’. Album itulah yang banyak menyita perhatian masyarakat pecinta musik. Sebab, ada perubahan corak yang cukup signifikan, yaitu dari rock progresif menjadi hard rock dan heavy metal.
Album ini meledak di pasaran dan menjadi album terlaris God Bless sepanjang sejarah. Tak hanya itu, album ini juga berhasil mengangkat kembali nama God Bless ke puncak popularitas, sekaligus menjadi perangsang kelompok musik rock yang lahir pasca God Bless saat itu.
Rampung menggarap album baru, lagi-lagi God Bless menghadapi persoalan personil. Kali ini giliran gitaris Ian Antono yang menyatakan mundur. Posisinya kemudian digantikan Eet Sjachranie. Dan hampir satu windu kelompok ini sepi dari kegiatan.
Baru pada 1997, semua personil God Bless bersama Ian Antono, bersepakat meluncurkan album baru yang diberi nama ‘Apa Kabar’. Seperti telah menjadi siklus sejarah mereka, tak lama setelah album baru itu keluar pergantian personil terjadi, Eet Sjachranie menyatakan mundur.
Sejarah pergantian personel pun kembali terulang. Bongkar pasang personel itulah yang ditengarai sebagai kendala bagi kelompok ini dalam memproduksi album. Tercatat, 15 kali mereka berganti formasi.
Namun, kendati sering harus menghadapi gelombang persoalan dan berganti personil sehingga minim melahirkan album baru, kelompok ini tetap dianggap sebagai pelopor musik rock di tanah air dengan kualitas yang tinggi.
Dan satu bukti, anak-anak muda generasi 90-an pun ternyata akrab dengan lagu-lagu mereka, kendati itu dicipta jauh sebelum mereka lahir. Itulah peristiwa yang terjadi di malam penganugerahan ‘The Immortals’, Kamis (30/10) malam itu. Mereka bernyanyi dan berjingkrak, mengikuti Ahmad Albar yang tengah bernyanyi di atas panggung.
www.tempointeraktif.com
Ahmad Albar terlihat begitu sumringah saat ditanya kemungkinan kelompok musik rock yang didirikannya ‘God Bless’ merilis album baru lagi. Dan memang, malam itu God Bless dianugerahi penghargaan sebagai salah satu artis abadi di Tanah Air lewat predikat ‘The Immortals (keabadian)’.
Bagi pria kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946 ini, pertanyaan dan penghargaan itu menjadi satu penegasan bahwa sejatinya, keberadaan kelompoknya masih diakui oleh masyarakat.
“Berarti God Bless masih mendapatkan tempat di hati masyarakat,” tuturnya saat ditemui di sela-sela acara penganugerahan penghargaan ‘The Immortials’ yang digelar Majalah The Rolling Stones di Jakarta, Kamis (30/10).
Maklum, setelah merilis albumnya yang kelima ‘Apa Kabar’ pada 1997, kelompok ini seolah hilang tak terdengar kabarnya. Sementara kelompok musik yang mengusung genre rock dengan berbagai corak pun banyak bermunculan di belantika musik nasional.
Albar Memang, sesekali nama personel kelompok yang berdiri sejak 5 Mei 1973 itu terdengar, baik Ahmad Albar, Ian Antono, atau Dony Fattah. Namun itu bukan atas nama God Bless, tetapi kelompok lain atau sebagai pribadi. Gong 2000 misalnya.
Sehingga malam itu menjadi sebuah penegasan ketika pria yang biasa disapa Iyek tersebut menyatakan, ia dan kawan-kawan tengah mempersiapkan album baru. “God Bless menargetkan pada Januari atau Februari 2009, album baru itu sudah bisa beredar. November ini sudah masuk tahap penyelesaian beberapa materi lagu,” tandasnya mantap.
Dan bisa jadi orang yang mendengar jawaban ini akan sedikit terkesiap. Wajar, sebab usia para personel kelompok yang pernah menjadi band pembuka pada konser grup legendaris dunia ‘Deep Purple’ di Jakarta pada 1975 itu, juga tak bisa dibilang muda.
Ahmad Albar misalnya, telah berusia 62 tahun. Dony Fattah 56 tahun, Ian Antono 57 tahun, dan Abadi Soesman (yang menggantian Jockie Suryoprajogo) sudah 56 tahun. “Jangan salah, kami ini anak-anak muda yang memainkan lagu-lagu tua. Kami tidak kalah dengan yang muda-muda,” ujar Ahmad Albar terbahak.
Lantas seperti apa corak musik God Bless kali ini? Akankah terjadi perubahan sesuai dengan tuntutan pasar saat ini? “Memang, kalau kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali bermunculan grup rock dengan corak melankolis. Tapi kami tetap pada jalur kami, pokoknya God Bless banget,” papar pria ini
Pertanyaan ini pun wajar. Pasalnya, God Bless sudah satu dasawarsa lebih tidak merilis album baru. Tercatat, sejak 1973 sampai 2006 atau sekitar 33 tahun, kelompok baru merilis lima album, yaitu ‘Huma di Atas Bukit’ yang dirilis pada 1976. Kemudian ‘Cermin’ pada 1980, ‘Semut Hitam’ pada 1988, ‘Maret 1989 yang dirilis pada 1989, dan yang terakhir ‘Apa Kabar’ pada 1997.
Tapi, lagi-lagi Ahmad Albar menjawab keraguan itu. Meski kerap mengalami kekosongan produksi album, lantaran sering bergantinya personil, namun kelompok ini memiliki komitmen yang tinggi terhadap musik cadas tersebut. “Bagi kami rock adalah nafas kehidupan kami, karena kami mencari makan dari musik ini. Tak hanya itu, musik ini juga menjadi jiwa kami, karena bermusik ini kami memiliki semangat,” tandas Dony Fattah yang diamini Ian Antono.
Yang terang, God Bless memiliki daya tarik yang besar bagi masyrakat pecinta musik di tanah air. Bukan semata-mata keteguhan kelompok ini dalam meniti jalur rock dengan lagu-lagu yang melegenda saja, namun sebagai kelompok musik generasi 70-an yang keberadaannya masih diakui, grup ini juga merupakan daya tarik tersendiri. Lebih-lebih bila disimak dinamika perjalanan sejarahnya.
Dinamika kelompok ini dalam mengarungi belantika musik rock tanah air, ibarat meniti buih di tengah gelombang. Ada kalanya mereka di atas seiring menjulangnya ombak, tapi tak jarang pula mereka di bawah atau bahkan teseret gelombang sehingga harus berhenti dari kegiatan, untuk kemudian kembali bangkit.
Pada dekade 70-an, misalnya, kelompok musik ini bisa disebut merajai musik cadas di Indonesia. Ia ditempatkan pada urutan atas dibanding kelompok musik lainnya yang ada kala itu, seperti Giant Step dan Rollies.
Hanya memang seiring perjalanannya, grup ini terhitung sering berganti personil. Pada Juni 1974, Fuad Hasan sang penabuh drum dan Soman Lubis pemain keyboard mengalami kecelakaan lalu lintas. God Bless pun kehilangan dua personelnya.
Tak pelak, kegiatan juga terhenti. Ahmad Albar, sang vokalis, menempuh bersolo karier, bahkan sempat berkolaborasi dengan penyanyi rock Ucok “Aka” Harahap. Mereka membentuk Duo Kribo. Begitu pun dengan Ian Antono, yang bersolo karir. Tak pelak, dalam kurun waktu hampir lima tahun kelompok ini belum merilis album baru.
Tanda-tanda kebangkitan untuk membuat album mulai terlihat memasuki tahun keenam. Namun sayang, menjelang pembuatan album kedua yang diberi judul ‘Cermin’ dan dirilis pada 1980 itu, salah seorang personilnya yaitu Jockie Surjoprayogo (yang sebelumnya menggantikan posisi Dedy Dorres), mengundurkan diri. Keadaan itu sempat mempengaruhi God Bless.
Tapi itu tak lama, karena posisi yang ditinggalkan Jockie digantikan Abadi Soesman. Tapi, keberadaan Jockie di kelompok ini juga tak lama, karena selang dua tahun setelah album itu dirilis yaitu pada 1982, ia mengundurkan diri. Kegiatan God Bless pun seolah terhenti.
Denyut kegiatan mulai terasa lagi pada 1988, yaitu saat diluncurkannya album ketiga yang bertajuk ‘Semut Hitam’. Album itulah yang banyak menyita perhatian masyarakat pecinta musik. Sebab, ada perubahan corak yang cukup signifikan, yaitu dari rock progresif menjadi hard rock dan heavy metal.
Album ini meledak di pasaran dan menjadi album terlaris God Bless sepanjang sejarah. Tak hanya itu, album ini juga berhasil mengangkat kembali nama God Bless ke puncak popularitas, sekaligus menjadi perangsang kelompok musik rock yang lahir pasca God Bless saat itu.
Rampung menggarap album baru, lagi-lagi God Bless menghadapi persoalan personil. Kali ini giliran gitaris Ian Antono yang menyatakan mundur. Posisinya kemudian digantikan Eet Sjachranie. Dan hampir satu windu kelompok ini sepi dari kegiatan.
Baru pada 1997, semua personil God Bless bersama Ian Antono, bersepakat meluncurkan album baru yang diberi nama ‘Apa Kabar’. Seperti telah menjadi siklus sejarah mereka, tak lama setelah album baru itu keluar pergantian personil terjadi, Eet Sjachranie menyatakan mundur.
Sejarah pergantian personel pun kembali terulang. Bongkar pasang personel itulah yang ditengarai sebagai kendala bagi kelompok ini dalam memproduksi album. Tercatat, 15 kali mereka berganti formasi.
Namun, kendati sering harus menghadapi gelombang persoalan dan berganti personil sehingga minim melahirkan album baru, kelompok ini tetap dianggap sebagai pelopor musik rock di tanah air dengan kualitas yang tinggi.
Dan satu bukti, anak-anak muda generasi 90-an pun ternyata akrab dengan lagu-lagu mereka, kendati itu dicipta jauh sebelum mereka lahir. Itulah peristiwa yang terjadi di malam penganugerahan ‘The Immortals’, Kamis (30/10) malam itu. Mereka bernyanyi dan berjingkrak, mengikuti Ahmad Albar yang tengah bernyanyi di atas panggung.
www.tempointeraktif.com
Di luar keberhasilan film ini menyabet delapan penghargaan Oscar tahun 2009, ada secuil pemaknaan lain film besutan sutradara Danny Boyle ini. Penggambaran negara India terasa begitu asli. Kekumuhan melawan kedigdayaan transformasi kekinian digambarkan seimbang. Seperti kita tahu, India adalah sebuah negara majemuk yang cukup luas dan tengah berupaya bangkit dari krisis. Setali tiga uang, pada masa awal-awal berdirinya negara ini tidak jauh berbeda kondisinya dengan negara kita. Dipimpin oleh seorang Bapak Bangsa yang kharismatik, India seakan melaju lebih pesat dari dugaan kita.
lanjut besok lagi yah (males aja nih klo nulis…tanya kenapa….?)
Harapan yang begitu besar dari para pecinta sepakbola Bandung terhadap tim kesayangannya Persib Maung Bandung sedikit menguap. Pasalnya pada pertemuan leg pertama Copa Indonesia yang dilangsungkan di Stadion Sriwijaya Palembang, tim kebanggaan kota Bandung ini kalah 1-3. Gol cepat dari Kharis Yulianto ditengarai turut membuat panik kubu Maung Bandung. Sehingga gol beruntun pun kemudian terjadi tidak lebih dari selang waktu sebelas menit.
Kepanikan jelas terlihat bagi tim Jaya Hartono ini, terlebih barisan belakang Maung Bandung yang kali ini menerapkan pola bek dengan pola pertahanan empat sejajar. Melihat dari pola barisan pemain bertahan Persib, hampir dipastikan sore itu Jaya menerapkan pola 4-4-2. Hal ini sedikit berbeda dengan pola yang biasanya di mainkan Jaya di setiap laganya. Disamping gol cepat dari Charis tersebut, pola baru 4-4-2 ini menjadi pemicu lemahnya koordinasi lini pertahanan Persib. Para pemain terlihat kebingungan dengan pola permainan cepat yang diterapkan Laskar Wong Pitho yang dimotori oleh Budi Sudarsono, Ngon A Jam dan Keith Kayamb Gumbs.
Walhasil di dua puluh menit pertama, gawang Persib kebobolan 3 gol. Dalam pertandingan sore ini pula, Gilang Angga yang biasanya dimainkan di sektor sayap kanan Persib (dengan pola 3-5-2) tidak diturunkan. Sebagai gantinya Jaya memasukkan Waluyo yang diposisikan sejajar dengan trio pemain belakang reguler Persib lainnya; Maman, Nova dan Nyeck. Serangan yang bertubi-tubi dilancarkan Sriwijaya, membuat kuartet lini belakang Persib kocar-kacir. Waluyo seakan kehilangan posnya. Posisinya menjadi tidak jelas. Pergerakan tanpa bola yang dilakukan Sriwijaya kerapkali lolos dan berhadapan langsung dengan penjaga gawang Persib, Tema Mursadat.
Melihat gelagat ini.. memasuki menit ke empat puluh Jaya memasukkan Gilang Angga menggantikan Waluyo. Bisa ditebak, pola yang sebelumnya dimainkan 4-4-2 berubah kembali ke pakem Persib 3-5-2.
Dengan pola ini permainan Persib terlihat berkembang. Terlebih di Babak kedua, dimana Persib mampu menguasai hampir seluruh pertandingan. Belum lagi suntikan amunisi baru di babak kedua, seperti Atep dan Airlanggan Sucipto yang diturunkan mengganti Eka Ramdhani yang kurang bermain maksimal di babak pertama dan Zaenal Arief yang terlihat kelelahan.
Melihat strategi sore itu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan Jaya Hartono. Pelatih asal Medan ini sah-sah saja menumpuk pemain di lini pertahanan dengan alasan untuk meredam agresifitas tuan rumah. Demikian pula halnya ketika dia ‘merumahkan’ Cabanas dan Bastos yang ditinggal di Bandung. Semua ini menurutnya ada demi kepentingan strategi tim.
Jaya memang tidak patut disalahkan. Sebab ini merupakan permainan kolektif. bahkan selaku pemain profesional sudah seharusnya tiap pemain mampu beradaptasi dengan strategi apapun yang diterapkan pelatih. Sehingga tidak terjebak pada satu pola yang bisa saja sudah terbaca lawan.
Oleh sebab itu apapun hasilnya, langkah Jaya harus tetap diapresiasi. Sembari memberikan dorongan untuk melakukan evaluasi, khususnya di lini belakang. Sebab bukan kali ini saja lini belakang Persib pontang-panting tak karuan menghadapi serangan lawan. Bahkan ketika bermain dengan pola 3-5-2 sekalipun kerap terlihat keributan dan kepanikan yang menyebabkan putusnya komunikasi di lini belakang.
Oleh sebab itu untuk menggapai tangga juara ISL dan Copa, Persib harus sesegera mungkin melakukan evaluasi. Semua elemen yang tergabung didalamnya harus mampu berlapang dada untuk membenahi diri menuju arah yang lebih baik.
Semoga harapan warga Bandung melihat Persib Juara Tahun ini, bukan harapan kosong belaka. Ayo Buktikan Taringmu Maung
Seolah hasrat itu telah sirna. Ternyata ada tertanam jauh di alam bawah sadar. Ia tertidur cukup lama. Bersemedi dan bersemayam di lubuk hati yang gelap. Bergentayangan setiap malam menemui mimpi-mimpi kala senja telah datang. Kini adanya telah jelas. Kembali mengguncang bathin yang telah dilanda gundah gulana. Memikirkan hidup yang kelak akan dilewati. Kemana…….? Sampai mana…..? dan Kapan Waktunya.
Sanggupkan kesadaran menjawabnya……?
Dunia kini tak berbatas. Jarak, waktu, dan batas kini seolah memudar. Setiap menit, kapan dan dimana saja setiap orang dapat memanfaatkan teknologi informasi. Dengan demikian kendala jarak, waktu dan batas yang dulu menjadi pembatas kini seolah sirna.
Oleh sebab itu pintar-pintarlah anda memanfaatkan kemajuan teknologi ini secara bijak.
Apa coba maksudnya…? Yah itulah dunia maya. Dunia yang tak berbatas, siapapun bisa masuk dan berkenalan. Seperti saat ini. Tiba-tiba saja “Bundanya Aiiah” masuk kedalam list kontak di YM ku. Siapa dia….?
Tak jelas juga. Dari photo dan pengakuannya dia masih berumur 19 tahun. Mungkin baru semester 1an kuliah. Kuliah dimana…? tidak jelas juga, sebab memang belum sampai sedalam itu kami berkenalan.
Yang jelas dia tinggal di cijerah bandung, sebuah tempat dimana aku lahir dan dibesarkan. Kejadian hari ini seolah kembali menggali kenangan-kenangan yang telah lama terpendam, terkubur dalam ingatan bawah sadar. Maklum saja, telah lebih dari 12 tahun tempat itu kutinggalkan. Dan selama itu pula tidak ada satupun momen yang mampu membawa ingatanku untuk kembali ke tempat itu. Seolah semua bergerak terus kedepan, melampaui waktu hingga tak ada tempat untuk menjemput kembali kenangan yang telah terpendam dalam itu.
Dan hari ini sedikit perkenalan itu kembali menguak pintu kenangan itu. Kenangan bersama teman-temanku, para tetangga kami yang baik dan tempat-tempat istimewa yang biasanya menjadi tempat favorite para anak kecil penghuni Perumnas Cijerah I bermain. Hampir tiap sore biasanya mamah menyuapi makanan di tempat sampah didepan rumahku. Jangan kaget dulu, temmpat sampah ini bukan sembarang tempat sampah. Semenjak bangunan ini berdiri, bahkan jauh sebelum aku besar dan mampu mengunyah makanan, tempat sampah ini tidak pernah digunakan untuk yang kotor-kotor. Bapak yang biasanya merawat sekitar lingkungan rumah. Dia memang yang paling rajin untuk urusan yang satu itu. Mulai dari menyapu halaman, memotong ranting daun jambu didepan rumah kami hingga membersihkan selokan. Saking apiknya, Bapak tidak mengijinkan siapapun untuk membuang sampah di tempat yang memang pada awalnya diperuntukkan sebagai pembuangan sampah didepan rumah kami. Bapak menyiapkan ember besar dan plastik-plastik untuk menampung sampah-sampah itu. Untuk kemudian dibawa oleh para petugas sampah kotamadya.
Maka tempat itu tak terbilang bersihnya. tiap pagi dan sore selalu dibersihkan. Maka tak heran jika hampir tiap hari sabtu dan minggu Mamah menyuapi makanan di tempat sampah tapi bersih ini. Maklum saja dari hari senin sd jumat dia bekerja. Maka hari Sabtu dan minggu itulah hari dimana kami dapat bersua dan saling bercengkrama. Ah……. apakah penghuni baru rumah kami itu masih mempertahankan tempat sampah itu seperti Bapak…..? Aku ragu. Padahal dari tempat sampah itulah seluruh anak penghuni Blok A bermain, belajar hingga nangis-nangisan berkelahi. Pun jua ketika kini semua telah beranjak dewasa, tentunya tempat itu memiliki sejuta arti.
Seperti ketika Bapak Cilok itu mangkal saban pagi. Instink anak-anak penghuni Blok A seperti sudah tau. Jam setengah 8 adalah jam untuk menyantap tepung yang ditaburi kacang dan kecap itu. Semua berkumpul menunggu giliran, sambil mendengarkan dongeng sang Bapak tentang cerita anak-anak kampung.
Bersambung
Setelah sukses dengan paket promosi keluarga, lagi-lagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa photographi ini mengeluarkan paket promosi spektakuler untuk perkawinan dan pra pernikahan
Perusahaan photographi yang berdiri satu tahun yang lalu ini semakin menapakkan kakinya sebagai salah satu perusahaan dibidang jasa photographi yang semakin dipercaya oleh masyarakat dan siap bersaing dengan perusahaan sejenis yang sudah terlebih dahulu mengibarkan benderanya. Ini terbukti dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan jasa photographi pada perusahaan ini. Dalam satu tahun perusahaan ini mampul melayani lebih dari seribu lima ratus klien. Wow…sangat mengesankan.
Entah strategi apa yang dipakai untuk bisa menggaet dan melayani klien sebanyak itu, tapi setelah dicermati ternyata kuncinya di jenis-jenis paket, harga dan kualitasnya yang memang sangat mengena diseluruh kalangan masyarakat.
Paket yang sebelumnya dan sampai sekarang tergolong sukses adalah paket promosi pemotretan keluarga. Hanya dengan 250 ribu rupiah anda sekeluarga sudah bisa mendapatkan 1 buah album exclusive 4R isi 20 pose yang telah diedit dengan baik. Dan paket ini semakin banyak diminati oleh kalangan masyarakat. Begitu juga paket glamour dan baby & kids, semua paket tersebut dengan harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat dengan tidak mengurangi sedikitpun kualitasnya tetap menjadi pilihan terbanyak di Lightbox Photography.
Hal tersebut ditanggapi oleh managemen dengan serius mengingat semakin bertambahnya peminat paket – paket pemotretan yang disediakan oleh perusahaan. Managemen perusahaan semakin meningkatkan standart pelayanan diberbagai divisi mulai dari marketing, customer service, divisi produksi dan photographer. Semua standart tersebut ditingkatkan untuk lebih memberikan yang terbaik kepada klien.
Tidak berhenti sampai disitu saja, Lightbox Photography juga sekarang ini meluncurkan paket spesial promosi untuk resepsi perkawinan (wedding) dan pra pernikahan (prewedding), lagi-lagi dengan harga spektakuler yakni dengan harga 1 juta dan 1,5 juta rupiah. Harga tersebut tidak akan mengurangi apapun dari segi kualitas. Untuk paket spesial promo perkawinan (wedding) harga tersebut sudah mencakup album cantik dengan ukuran 20×30 cm sebanyak dua buah, photographer profesional, dan lightbox Photography juga akan membawa mini studio (lampu-lampu dan background) untuk pemotretan keluarga besar dilokasi resepsi perkawinan.
Untuk memenuhi pelayanan lebih baik lagi kepada klien, Lightbox Photography sudah mempersiapkan sumber daya manusia terbaik dan mobil operasional baru. Hal ini sangat diperlukan mengingat tujuan perusahaan yang akan mempersiapkan cabang-cabang pertamanya sekitar bulan Januari 2009 di wilayah Bintaro dan Bekasi. “Kami juga akan memberikan peluang usaha kepada siapapun apabila ada yang tertarik untuk menjadi pengusaha di bidang jasa photography profesional” ujar Direktur Operasional Lightbox Photography.