Ahmad Albar terlihat begitu sumringah saat ditanya kemungkinan kelompok musik rock yang didirikannya ‘God Bless’ merilis album baru lagi. Dan memang, malam itu God Bless dianugerahi penghargaan sebagai salah satu artis abadi di Tanah Air lewat predikat ‘The Immortals (keabadian)’.
Bagi pria kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946 ini, pertanyaan dan penghargaan itu menjadi satu penegasan bahwa sejatinya, keberadaan kelompoknya masih diakui oleh masyarakat.
“Berarti God Bless masih mendapatkan tempat di hati masyarakat,” tuturnya saat ditemui di sela-sela acara penganugerahan penghargaan ‘The Immortials’ yang digelar Majalah The Rolling Stones di Jakarta, Kamis (30/10).
Maklum, setelah merilis albumnya yang kelima ‘Apa Kabar’ pada 1997, kelompok ini seolah hilang tak terdengar kabarnya. Sementara kelompok musik yang mengusung genre rock dengan berbagai corak pun banyak bermunculan di belantika musik nasional.
Albar Memang, sesekali nama personel kelompok yang berdiri sejak 5 Mei 1973 itu terdengar, baik Ahmad Albar, Ian Antono, atau Dony Fattah. Namun itu bukan atas nama God Bless, tetapi kelompok lain atau sebagai pribadi. Gong 2000 misalnya.
Sehingga malam itu menjadi sebuah penegasan ketika pria yang biasa disapa Iyek tersebut menyatakan, ia dan kawan-kawan tengah mempersiapkan album baru. “God Bless menargetkan pada Januari atau Februari 2009, album baru itu sudah bisa beredar. November ini sudah masuk tahap penyelesaian beberapa materi lagu,” tandasnya mantap.
Dan bisa jadi orang yang mendengar jawaban ini akan sedikit terkesiap. Wajar, sebab usia para personel kelompok yang pernah menjadi band pembuka pada konser grup legendaris dunia ‘Deep Purple’ di Jakarta pada 1975 itu, juga tak bisa dibilang muda.
Ahmad Albar misalnya, telah berusia 62 tahun. Dony Fattah 56 tahun, Ian Antono 57 tahun, dan Abadi Soesman (yang menggantian Jockie Suryoprajogo) sudah 56 tahun. “Jangan salah, kami ini anak-anak muda yang memainkan lagu-lagu tua. Kami tidak kalah dengan yang muda-muda,” ujar Ahmad Albar terbahak.
Lantas seperti apa corak musik God Bless kali ini? Akankah terjadi perubahan sesuai dengan tuntutan pasar saat ini? “Memang, kalau kita lihat dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekali bermunculan grup rock dengan corak melankolis. Tapi kami tetap pada jalur kami, pokoknya God Bless banget,” papar pria ini
Pertanyaan ini pun wajar. Pasalnya, God Bless sudah satu dasawarsa lebih tidak merilis album baru. Tercatat, sejak 1973 sampai 2006 atau sekitar 33 tahun, kelompok baru merilis lima album, yaitu ‘Huma di Atas Bukit’ yang dirilis pada 1976. Kemudian ‘Cermin’ pada 1980, ‘Semut Hitam’ pada 1988, ‘Maret 1989 yang dirilis pada 1989, dan yang terakhir ‘Apa Kabar’ pada 1997.
Tapi, lagi-lagi Ahmad Albar menjawab keraguan itu. Meski kerap mengalami kekosongan produksi album, lantaran sering bergantinya personil, namun kelompok ini memiliki komitmen yang tinggi terhadap musik cadas tersebut. “Bagi kami rock adalah nafas kehidupan kami, karena kami mencari makan dari musik ini. Tak hanya itu, musik ini juga menjadi jiwa kami, karena bermusik ini kami memiliki semangat,” tandas Dony Fattah yang diamini Ian Antono.
Yang terang, God Bless memiliki daya tarik yang besar bagi masyrakat pecinta musik di tanah air. Bukan semata-mata keteguhan kelompok ini dalam meniti jalur rock dengan lagu-lagu yang melegenda saja, namun sebagai kelompok musik generasi 70-an yang keberadaannya masih diakui, grup ini juga merupakan daya tarik tersendiri. Lebih-lebih bila disimak dinamika perjalanan sejarahnya.
Dinamika kelompok ini dalam mengarungi belantika musik rock tanah air, ibarat meniti buih di tengah gelombang. Ada kalanya mereka di atas seiring menjulangnya ombak, tapi tak jarang pula mereka di bawah atau bahkan teseret gelombang sehingga harus berhenti dari kegiatan, untuk kemudian kembali bangkit.
Pada dekade 70-an, misalnya, kelompok musik ini bisa disebut merajai musik cadas di Indonesia. Ia ditempatkan pada urutan atas dibanding kelompok musik lainnya yang ada kala itu, seperti Giant Step dan Rollies.
Hanya memang seiring perjalanannya, grup ini terhitung sering berganti personil. Pada Juni 1974, Fuad Hasan sang penabuh drum dan Soman Lubis pemain keyboard mengalami kecelakaan lalu lintas. God Bless pun kehilangan dua personelnya.
Tak pelak, kegiatan juga terhenti. Ahmad Albar, sang vokalis, menempuh bersolo karier, bahkan sempat berkolaborasi dengan penyanyi rock Ucok “Aka” Harahap. Mereka membentuk Duo Kribo. Begitu pun dengan Ian Antono, yang bersolo karir. Tak pelak, dalam kurun waktu hampir lima tahun kelompok ini belum merilis album baru.
Tanda-tanda kebangkitan untuk membuat album mulai terlihat memasuki tahun keenam. Namun sayang, menjelang pembuatan album kedua yang diberi judul ‘Cermin’ dan dirilis pada 1980 itu, salah seorang personilnya yaitu Jockie Surjoprayogo (yang sebelumnya menggantikan posisi Dedy Dorres), mengundurkan diri. Keadaan itu sempat mempengaruhi God Bless.
Tapi itu tak lama, karena posisi yang ditinggalkan Jockie digantikan Abadi Soesman. Tapi, keberadaan Jockie di kelompok ini juga tak lama, karena selang dua tahun setelah album itu dirilis yaitu pada 1982, ia mengundurkan diri. Kegiatan God Bless pun seolah terhenti.
Denyut kegiatan mulai terasa lagi pada 1988, yaitu saat diluncurkannya album ketiga yang bertajuk ‘Semut Hitam’. Album itulah yang banyak menyita perhatian masyarakat pecinta musik. Sebab, ada perubahan corak yang cukup signifikan, yaitu dari rock progresif menjadi hard rock dan heavy metal.
Album ini meledak di pasaran dan menjadi album terlaris God Bless sepanjang sejarah. Tak hanya itu, album ini juga berhasil mengangkat kembali nama God Bless ke puncak popularitas, sekaligus menjadi perangsang kelompok musik rock yang lahir pasca God Bless saat itu.
Rampung menggarap album baru, lagi-lagi God Bless menghadapi persoalan personil. Kali ini giliran gitaris Ian Antono yang menyatakan mundur. Posisinya kemudian digantikan Eet Sjachranie. Dan hampir satu windu kelompok ini sepi dari kegiatan.
Baru pada 1997, semua personil God Bless bersama Ian Antono, bersepakat meluncurkan album baru yang diberi nama ‘Apa Kabar’. Seperti telah menjadi siklus sejarah mereka, tak lama setelah album baru itu keluar pergantian personil terjadi, Eet Sjachranie menyatakan mundur.
Sejarah pergantian personel pun kembali terulang. Bongkar pasang personel itulah yang ditengarai sebagai kendala bagi kelompok ini dalam memproduksi album. Tercatat, 15 kali mereka berganti formasi.
Namun, kendati sering harus menghadapi gelombang persoalan dan berganti personil sehingga minim melahirkan album baru, kelompok ini tetap dianggap sebagai pelopor musik rock di tanah air dengan kualitas yang tinggi.
Dan satu bukti, anak-anak muda generasi 90-an pun ternyata akrab dengan lagu-lagu mereka, kendati itu dicipta jauh sebelum mereka lahir. Itulah peristiwa yang terjadi di malam penganugerahan ‘The Immortals’, Kamis (30/10) malam itu. Mereka bernyanyi dan berjingkrak, mengikuti Ahmad Albar yang tengah bernyanyi di atas panggung.
www.tempointeraktif.com